Senin, 19 Januari 2015

Sembilan Belas Januari

“Entah harus kuucapkan selamat atau turut berduka untukmu yang sedang berulang tahun. Selamat karena kamu masih bisa bernafas di ulang tahunmu yang ke sekian ini. Berduka bila dalam ulang tahunmu ini cahayamu malah makin redup, tak segemilang dahulu. Menghilang dalam ledakan bagiku lebih baik dibanding menghilang perlahan tertelan gelap dan sunyi. Bagaimanapun pilihan selalu menyertaimu, engkau yang sedang berulang tahun.” (A friend of mine)
          Dua puluh tahun yang lalu, di tanggal yang sama, sembilan belas Januari, seorang gadis kecil memberanikan diri membuka mata, menantang dunia. Diberi nama ‘Afifah oleh sang abah mama. Nama yang sangat singkat, hanya terdiri dari satu kata. Entah berapa banyak yang mengeluh, mengatakan betapa pelit menyematkan nama untuk sang buah hati. Sembarangan kah?
                Hei, tahukah kau seberapa hebat makna dari nama yang singkat ini. ‘Afifah, isim fa’il dari fi’il ‘afaa yang artinya menyucikan diri. ‘Afifah sendiri dapat diartikan sebagai ‘orang yang memiliki harga diri’ atau ‘orang yang menjaga kehormatan diri’. Sepatah do’a yang orang tuaku sematkan dalam satu kata, sebuah nama. Berkaca pada diri, sudahkah menjadi pribadi yang sepadan dengan nama yang dititipkan? Mama abah, maafkan anakmu yang masih seperti ini, maafkan anakmu yang tak sampai-sampai menuju sosok itu, seorang ‘Afifah yang kalian dambakan.
                Dua puluh. Sejatinya apakah usia ini bertambah? Ah, aku seringnya lupa bahwa semakin hari jatah hidup semakin menipis. Entah berapa lama lagi diri ini diperkenankan menghirup udara gratis, entah berapa banyak hari lagi yang bisa dinikmati. Tak ada yang menjamin diri masih bisa hidup lima puluh tahun lagi. Boleh jadi besok atau bahkan beberapa detik lagi nyawa ini direnggut. Ah, lagi-lagi aku lupa, tak kan ada yang merenggut, karena diri ini bukan milikku sendiri, nyawa ini tak ubahnya barang pinjaman yang bisa diambil kapan saja oleh Sang Pemilik.Waktu semakin menipis, semakin mendekati garis finish. Tetapi diri tak kunjung berlari mempersiapkan diri, malah semakin sibuk dengan hal yang fana, melupakan yang utama.

“Kita tak lain kumpulan hari. Tiap berlalu sepetang-sepagi; telah hilang sebagian diri.” (Salim. A Fillah)

               Aku kini menginjak usia kepala dua, usia dimana harusnya aku sudah punya beberapa pencapaian, usia dimana harusnya aku sudah menjadi sosok ‘Afifah yang sebenarnya. Tapi aku ternyata belum mencapai titik itu. Satu hal yang tak boleh terlupa untuk disyukuri, aku masih punya pilihan, pilihan untuk ‘menghilang dalam ledakan’ atau ‘menghilang dalam kesunyian’. Selama pagi masih datang membawa harapan, selama itu pula diri masih diberi kesempatan untuk mencapai titik itu, menuju sosok ‘Afifah yang diharapkan. Semoga kesempatan yang datang tak pernah lagi tersiakan. Semoga Allah berkenan mengabulkan.





Sabtu, 17 Januari 2015

Is this Holiday?

Sumber gambar : http://www.infigic.com/how-to-set-up-your-ebay-store-on-holiday-mode/
 
        
           LIBURAN!! Yup, akhirnya tiba juga saat dimana kepala ini terasa lebih ringan, tak ada praktikum tak ada laporan, haha. Apa yang identik dengan kata liburan? Biasanya liburan berisi rutinitas balas dendam setelah lelah menghadapi ujian berkepanjangan. Traveling, baca setumpuk novel, begadang buat marathon nonton film atau drakor, hang out bareng teman-teman, dan tentu saja pulang ke kampung halaman, ah komplit sudah paket holiday. Biasanya tiket pulang dibook jauh-jauh hari sebelum liburan, biar setelah ujian bisa langsung capcus ke kampung halaman. Tapi ada yang berbeda dari liburanku kali ini,  sengaja dibuat berbeda sebenarnya. Aku memutuskan untuk tak pulang, bukan karena tak rindu keluarga dan kampung halaman, tapi karena satu hal, penyesalan, hiks.
         Satu semester berlalu dan kurasa yang sudah kulakukan tak lebih dari wasting time. Aku lagi-lagi lengah. Niatnya di awal won’t let any single thing left behind, tapi faktanya ya masih saja dikalahkan keadaan. Aku sendiri yang memutuskan tak menjadi mahasiswa kupu-kupu, akulah yang menginginkan untuk menjadi seorang yang juga disibukkan oleh aktivitas-aktivitas non akademik, tapi sepertinya porsinya yang masih belum tepat. Tersentak diri ini saat mendengarkan pidato Pak Budi waktu Kongres Mahasiswa Biologi 2015 lalu, beliau bilang bahwa seharusnya yang namanya organisatoris itu jauh lebih pandai mengatur waktu, dan hal itu tentunya diwakilkan oleh IP yang bagus. Ah ya, apakabar IP perdanaku, tak berani berharap banyak di semester ini, pun juga berasumsi. Semoga saja kau masih dalam ‘zona aman’.
          Aku kalah kali ini dan kekalahanku menyisakan hutang yang harus segera dilunasi, Campbell tiga jilid. Targetnya selesai baca sebelum UAS semester satu, tapi ternyata molor hingga sekarang :3 Benar saja yang namanya penyesalan selalu berada di akhir. Tapi jangan lupakan bahwa pasti ada hal yang harus disyukuri. Bersyukurulah diri, penyesalan ini sudah ada sejak penghujung semester satu, masih banyak kesempatan yang menunggu di semester-semester depan. Sebelum semester depan dimulai, selagi yang lain masih bersantai menikmati liburan, saatnya hutang-hutang dilunasi, memproduktifkan diri dan mulai merangkak menuju garis start agar di awal semester dua nanti sudah siap untuk berlari, Yosh!!


Sabtu, 03 Januari 2015

Zenius Mereparasi Otakku

          

                                        sumber gambar : https://www.zenius.net/blog/1926/kupas-tuntas-soal-sbmptn-2013-bagian-1 

          Bercerita tentang Zenius, maka harus menceritakan sepenggal kisah kehidupanku tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu, aku adalah seorang pelajar alias sanriwati kelas XII di sebuah Madrasah ‘Aliyah swasta (bisa dibilang pesantren juga) di sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan. Berhubung aku bersekolah di sebuah pesantren, otomatis pelajarannya didominasi oleh pelajaran pondok (agama). Jam pelajaran yang sedikit dan ditambah dengan guru yang kadang masuk kadang tidak membuatku dan teman-teman hanya mengerti pelajaran secara sangat ‘sederhana’, bahkan beberapa pelajaran malah tak kumengerti samasekali. Memang tak bijak jika aku menyalahkan kondisi saat itu, but that I was, aku dulu memang seorang pecundang yang bisanya hanya menyalahkan keadaan.
         Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional (UN), aku mulai khawatir. Aku memang selalu mendapatkan ranking tiga besar di kelas, tapi dengan nilai kelas yang seperti apa dulu, kelas yang hanya mengerti pelajaran dengan sangat sangat sederhana, sangat minimalis. Aku mulai takut akan UN, aku menyadari akan pemahamanku yang sangat jauh jika dibandingkan dengan anak-anak lain yang bersekolah di SMA/MA Negeri. Aku mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di sebuah lembaga, tetapi tak banyak membantu karena di bimbel hanya mengulangi pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, sedangkan aku belum pernah benar-benar mengerti dengan pelajaran yang diberikan di sekolahku. Aku bertemu dengan anak-anak yang bersekolah di SMA/MA Negeri disana, aku kagum sekaligus minder dengan mereka, di kelas bimbel aku hanya diam tak berkutik, bahkan tak berani sekedar mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pengajar.
          Aku mulai belajar intensif sendiri setiap hari, susah sekali bagiku untuk memahami rumus-rumus dan angka-angka abstrak ini. Begitu banyak hal yang tak kumengerti, dasarnya saja aku belum menguasai, apalagi soal-soal yang begitu bervariasi. Mungkin kalau dipersentasekan, kurang dari 50% materi UN yang kukuasai. Semakin kulihat banyaknya rumus-rumus dan bacaan yang harus kupahami, ketakutanku malah semakin menjadi.
          Sehari menjelang UN, aku jatuh sakit, sakit mental sekaligus fisik, akibat syndrom ketakutan yang berlebihan. Alhasil aku tak bisa mengikuti UN selama dua hari dan harus mengikuti UN susulan. Aku mulai mengikuti ujian di hari ketiga UN, benar-benar hanya mengerjakan sebisaku. Di tengah mengerjakan ujian kimia aku bahkan mimisan, kemudian lari ke toilet dan menangis sejadinya. Entahlah, rasanya ini berat sekali untuk kujalani.
          UN hari ketiga dan keempat sudah terlewat, masih seminggu lagi hingga ujian susulan dilaksanakan. Seminggu yang begitu menyedihkan, aku hampir putus asa, aku merasa benar-benar tak mampu mengerjakan soal-soal ujian, aku ingin berhenti sekolah saat itu juga, padahal tinggal dua hari ujian susulan yang harus kulewati. Aku seperti orang gila yang kehilangan akal sehat, aku sudah hampir menyelesaikan masa sekolahku selama tiga tahun tapi malah ingin menyerah di titik akhir. Beruntung aku memiliki teman-teman yang begitu peduli, mereka tak lelah menasehati dan menguatkanku yang hampir kehilangan arah. Dengan sisa-sisa energi yang kumiliki, aku berhasil melewati seminggu terberat yang pernah kualami seumur hidupku.
          UN susulan pun tiba, aku mengerjakan soal-soal ujian sekuat tenagaku, lagi-lagi hanya semampuku. Kalian bisa bayangkan sendiri berapa soal yang bisa dijawab oleh seseorang yang hanya mengerti kurang dari 50% materi UN. Aku sudah pasrah dengan apapun hasilnya nanti, bahkan sudah berencana untuk mendaftar sekolah negeri di kotaku dan mulai belajar lagi dari kelas X jika aku tak lulus UN. Gila, ya memang, I was nearly mad. Tapi ternyata Allah masih sangat berbaik hati kepadaku, Dia masih mengabulkan do’a seorang pecundang yang hampir lari dari medan perang. Seperti mendapatkan keajaiban, aku lulus UN, meskipun hanya dengan nilai yang tentu saja seadanya.
          Ternyata akal sehatku belum benar-benar pulih. Aku sadar akan kemampuan diri yang tak seberapa, tapi masih saja berani bemimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM), benar-benar tidak realistis. Aku bersikeras untuk kuliah di UGM, kala itu aku samasekali tidak mendaftarkan diri di universitas lain selain di UGM, totally naif. Dengan nilai UN yang pas-pasan, bisa ditebak dengan mudah bahwa aku tidak lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tertulis 2012. Aku bukannya berpikir realistis dan mencoba mengikuti seleksi masuk universitas lain, tapi malah masih keras kepala untuk mencoba SNMPTN tahun berikutnya.
         Setahun bukanlah waktu yang singkat, sehingga aku memutuskan untuk mengikuti kursus  Bahasa Inggris di sebuah lembaga di Pare sembari mengisi waktu luangku. Disana aku bertemu dengan teman-teman yang juga bernasib sama denganku, orang-orang yang ditolak oleh kampus impian. Aku sering diajak belajar bersama untuk mempersiapkan SNMPTN tahun depan, tapi aku menolak, aku masih terlalu minder dan tak mau malah merepotkan teman-temanku, bukannya belajar bersama, malah mereka yang harus mengajariku semuanya. Mungkin karena selalu menolak untuk belajar bersama, akhirnya salah seorang temanku, namanya Arvin, memberikanku video materi SMA untuk membantuku belajar mandiri. Namun aku berencana untuk fokus belajar Bahasa Inggris terlebih dahulu, baru kemudian belajar mandiri untuk mempersiapkan SNMPTN.
          Tak terasa aku telah menyelesaikan masa belajarku di kursusan. Dua minggu lagi SNMPTN tertulis (yang ketika itu berubah nama menjadi SBMPTN) dilaksanakan dan aku galau. Aku bingung memilih untuk mengikuti SBMPTN 2013 atau mengikuti kursus lanjutan selama tiga bulan. Setelah dipikirkan matang-matang, aku memutuskan untuk melanjutkan kursus dan mengikuti ujian seleksi di tahun 2014.
          Setelah kursus lanjutanku selesai, aku pulang ke Kalimantan. Aku teringat akan video materi yang diberikan Arvin waktu itu, masih tersimpan rapi di dalam tiga keping DVD. Teringat jelas kala itu aku memutar sebuah video materi Biologi tentang sel. Ternyata video materi ini adalah video yang temanku copy dari Zenius Xpedia (entah video  di Xpedia memang bisa dicopy atau dia melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dibenarkan hehe), video-video ini sangat memudahkanku dalam memahami konsep-konsep pelajaran. Aku semakin antusias untuk benar-benar belajar dengan video-video materi ini. Baru beberapa video kuputar, ternyata video lainnya corrupted, oh My.
          Kemudian aku mencoba browsing dan mengakses zenius.net. Aku membeli voucher Zenius dan membulatkan tekad untuk belajar semuanya dari awal. Sudah setahun lebih aku tak memegang buku SMA, boro-boro masih ingat, paham betul saja aku belum pernah. Aku sungguhan belajar dari 0, dari aljabar malah. Bukan hanya materi SBMPTN yang kupelajari, tapi juga materi dari kelas X SMA, bahkan sesekali ngintip materi SMP gara-gara lupa tentang garis dan sudut. Kali ini Allah memberikan kesempatan untukku belajar dengan sebenar-benarnya dan tak membiarkan hal sekecil apapun terlewat tanpa dimengerti.  Jika ada yang tak kumengerti, aku tanyakan pada tutor-tutor Zenius lewat mention twitter, ini baru belajar versi canggih hehe.
          Zenius tak hanya membantuku memahami pelajaran, tapi juga berhasil merombak mindset dan mereparasi otakku. Aku yang dulunya takut saat melihat kumpulan rumus dan soal, aku yang dulunya mengalami krisis kepercayaan diri, kini mulai berani berhadapan dengan tumpukan soal-soal yang bervariasi. Aku pun mulai mengerti tentang esensi proses belajar yang sesungguhnya, belajar yang tak berorientasi utama pada hasil, tapi pada proses pembelajaran itu sendiri.
           Zenius memberikan harapan dan inspirasi lewat kisah-kisah para tutor dan alumni. Satu cerita yang selalu kuingat adalah cerita Bang Sabda tentang seorang alumni Zenius yang dulunya tak lulus UN tapi bahkan akhirnya bisa tembus ITB. Aku mulai percaya bahwa aku pun bisa melakukan hal yang sama, tak ada yang mustahil jika aku benar-benar berusaha. Aku mulai merangkai mimpi lagi, mulai menempeli dinding kamar dan lemari dengan jadwal belajar, list materi yang harus kupelajari, kata-kata pembangkit semangat, gambar-gambar kampus impian, hingga kalender reminder yang kucorat-coret tiap hari.



          Aku mulai kecanduan belajar, aku betah bertatapan dengan layar laptop dari bangun tidur hingga tidur lagi, betah duduk di pojok ruang tamu nempel di jendela kaya cicak biar bisa nangkep sinyal wifi tetangga. Pertama kali dalam sejarah hidup bisa belajar mati-matian dan rela hengkang dari media sosial selama berbulan-bulan, semuanya gara-gara Zenius.
          Kurang lebih delapan bulan aku bertemankan Zenius menyiapkan segala amunisi untuk seleksi masuk perguruan tinggi. Kali ini akal sehatku sudah pulih dan bisa berpikir logis lagi, meskipun aku sangat menginginkan menjadi bagian dari UGM, aku tetap harus mempersiapkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Aku mendaftarkan diri di beberapa universitas dan mengikuti empat kali tes, yaitu SBMPTN, UM UGM, mandiri UM, dan UMPTAIN.
          Waktu bergulir dan pengumuman seleksi pun akhirnya tiba. Aku diterima di tiga universitas, Biologi UGM, Pendidikan Biologi UM, dan Pendidikan Matematika IAIN Antasari. Mimpiku akhirnya terwujud, aku adalah satu dari 9.133 orang beruntung yang terpilih dari 295.395 orang yang bermimpi menjadi bagian dari UGM. Terimakasih buat Zenius yang sudah mengantarkan seorang yang dulunya pecundang dan hampir menyerah kalah dengan keadaan menuju kampus kerakyatan yang sudah bertahun-tahun diimpikan.